Artikel Aliran Post-Positivisme dalam Filsafat Ilmu

861 views

Artikel Aliran Post-Positivisme dalam Filsafat Ilmu

Artikel Aliran Post-Positivisme dalam Filsafat Ilmu. Perkembangan keilmuan terus menerus mengalami kemajuan seiring berkembangnya jaman. Berikut ini artikel yang mungkin dapat membantu anda menyelesaikan tugas Post-Positivisme dalam Filsafat Ilmu.


 

Abstrak: Post-positivisme merupakan paham atau aliran filsafat ilmu pengetahuan. Post-positivisme merupakan aliran yang memperbaiki paham positivisme. Aliran ini beranggapan bahwa manusia tidak akan mendapat kebenaran dari sebuah realitas apabila peneliti membuat jarak dengan realitas atau tidak terlibat langsung dengan realitas. Jadi peneliti memerlukan hubungan interaktif dengan realitas dengan menggunakan berbagai macam metode, sumber data, dan lain sebagainya

Kata Kunci: paradigma, post-positivisme, filsafat

 

Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah pesat dan membawa dampak serta pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Dengan adanya ilmu-ilmu tersebut dapat menepis anggapan mitos serta tahayul yang berkembang. Kemudian ilmu-ilmu tersebut memiliki kerangka berpikir sendiri yang biasa disebut dengan paradigma.

Awalnya, ajaran/aliran Aguste Comte yakni paradigma positivisme mengemukakan bahwa ilmu alam adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang benar. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan berpikir manusia, lahirlah aliran Post-positivisme yang merupakan sebuah kritik terhadap aliran Positivisme.

Secara ontologis aliran Post-positivisme bersifat critical-realism yang memandang bahwa realitas benar adanya dan sesuai dengan hukum alam, akan tetapi sangatlah mustahil apabila realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia. Melalui observasi saja tidaklah cukup, oleh karena itu manusia sebagai peneliti harus melakukan berbagai macam pendekatan atau metode, misalkan sumberdata, peneliti, maupun teori.

 

Pengertian Paradigma

Secara umum pengertian paradigma adalah seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari[1]. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, paradigma memiliki arti model dalam teori pengetahuan, kerangka berpikir.

Guba berpendapat bahwa paradigma dalam ilmu pengetahuan mempunyai definisi bahwa seperangkat keyakinan mendasar yang memandu tindakan-tindakan manusia dalam keseharian maupun dalam penyelidikian ilmiah.

Menurut C. J. Ritzer, paradigma adalah pandangan mendasar para ilmuan mengenai apa yang menjadi pokok permasalahan yang seharusnya dipelajari oleh satu cabang ilmu pengetahuan tertentu.

Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif).[2]

Dari beberapa pengertian yang dikumpulkan oleh penulis dari berbagai macam literatur, dapat ditarik kesimpulan bahwa paradigma merupakan keyakinan mendasar yang menjadi pemandu bagi seseorang untuk melakukan tindakan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam rangka penyelidikan ilmiah.

 

Post-positivisme

Guba (1990:20) menjelaskan Post-positivisme sebagai berikut: “Postpositivism is best characterized as modified version of positivism. Having assessed the damage that positivism has occured, postpositivists strunggle to limited that damage as well as to adjust to it. Prediction and control continue to be the aim.” Inti dari pernyataan yang berbahasa asing tersebut yakni, post-positivisme merupakan perbaikan dari paradigma sebelumnya yakni positivisme. Aliran post-positivisme merupakan aliran yang datang setelah positivisme, jadi wajar bila ada kesamaan dalam aliran tersebut. Positivisme dan post-positivisme sama-sama sepakat bahwa realitas itu benar-benar nyata dan sesuai dengan hukum alam. Namun, post-positivisme beranggapan bahwa manusia tidak akan mendapat kebenaran dari sebuah realitas apabila peneliti membuat jarak dengan realitas atau tidak terlibat langsung dengan realitas. Jadi peneliti memerlukan hubungan interaktif dengan realitas dengan menggunakan berbagai macam metode, sumber data, dan lain sebagainya .

Lahirnya paradigma post-positivisme diawali oleh gugatan terhadap positivisme yang dimulai antara tahun 1970-1980. Post-positivisme sendiri merupakan perbaikan dari positivisme yang dianggap mempunyai berbagai macam kelemahan. Kemudian alasan utama paham post-positivisme menentang terhadap positivisme yakni tidak mungkin menyamaratakan ilmu-ilmu tentang manusia dengan ilmu alam, karena tindakan manusia tidak bisa diprediksi dengan satu penjelasan yang mutlak pasti, sebab manusia selalu berubah. Contohnya pada kehidupan sehari-hari, kecenderungan orang memilih kendaraan. Jika sepeda motor bertransmisi manual cocok digunakan untuk laki-laki dan sepeda motor automatic cocok digunakan oleh perempuan. Maka belum tentu semua laki-laki menggunakan sepeda motor manual dan belum tentu pula semua wanita menggunakan sepeda motor automatic. Terkadang laki-laki ada yang lebih suka menggunakan matic dan perempuan menggunakan sepeda manual. Itulah contoh kecil dari tindakan manusia yang tidak dapat diprediksi maupun dapat berubah-ubah.

Tokohnya dari paradigma post-positivisme adalah Karl R. Popper dan Thomas Kuhn, dan para filsuf mazhab Frankfurt (Feyerabend, Richard Rotry).

 

Asumsi dasar Post-positivisme

Berikut ini merupakan asumsi dasar mengenai paradigma post-positivisme yang merupakan modifikasi dari paradigma sebelumnya yakni positivism.

  1. Merupakan pemikiran yang menggugat asumsi dan kebenaran-kebenaran positivisme.
  2. Tokohnya adalah Karl R. Popper dan Thomus Kuhn.
  3. Fakta tidak bebas nilai, melainkan bermuatan teori.
  4. Falibilitas Teori, tidak satupun teori yang dapat sepenuhnya dijelaskan dengan bukti-bukti empiris, bukti empiris memiliki kemungkinan untuk menunjukkan fakta anomali.
  5. Fakta tidak bebas melainkan penuh dengan nilai.
  6. Interaksi antara subjek dan objek penelitian. Hasil penelitian bukanlah reportase objektif melainkan hasil interaksi manusia dan semesta yang penuh dengan persoalan dan senantiasa berubah.
  7. Asumsi dasar post-positivisme tentang realitas adalah jamak individual.
  8. Hal itu berarti bahwa realitas (perilaku manusia) tidak tunggal melainkan hanya bisa menjelaskan dirinya sendiri menurut unit tindakan yang bersangkutan.
  9. Fokus kajian post-positivis adalah tindakan-tindakan (actions) manusia sebagai ekspresi dari sebuah keputusan. [3]

Perbedaan antara Paradigma Positivisme dengan Post-positivisme

Issue Positivism Post-positivism
Ontology:

Dealing with the nature of being

 

Terkait dengan yg berhubungan dengan alam, kejadian alamiah, semua yg alami,

Naive realism - "real" reality but apprehendible REALIST: Reality exists independent of observer's perceptions and operates according to immutable natural laws that often take cause/effect form. TRUTH is defined as that set of statements that accurately describe reality.

 

Keadaan sebenarnya yg memang ada tapi bergantung pada persepsi pengamat dan yg mengoprasikan atau yg menjalankan menurut hukum alam yang tetap dan sering juga diambil dari hal yang menjadi sebab akibat.

Critical realism - "real" reality but only imperfectly and probabilistically apprehensible

 

Realita yg tidak sempurna dan mungkin dapat dimengerti

Epistemology:
dealing with the
nature of knowledge,
its presuppositions,
foundations, extent
and validity

 

Terkait dengan pengetahuan alam, perkiraan, dasar pengetahuan, dan kebnaran

Dualist/objectivist (Knowledge is a phenomenon that exists external to the observer; the observer maintains a distance and studies the phenomenon (sometimes referred
to as empiricism)); findings true

 

Dualist (pengetahuan adalah sebuah fenomena yg ada diluar pengamat, pengamat tsb menjaga, mengurus atau mempertahankan sebuah jarak dan pembelajaran thd sebuah fenomena, (terkadang mengacu pada empiris)

Modified dualist/objectivist; critical tradition/community; findings probably true

 

Modified; kritisi secara tradisional atau komunitas tertentu; penemuannya mungkin benar atau valid

Methodology Experimental/ manipulative; verification of
hypotheses; chiefly quantitative methods INTERVENTIONIST seeks to control variables and neutralize contexts. The goal is to explain how something "really works" in order to predict and control.

 

 

Eksperimen; pembuktian dari hipotesis, terutama dengan metode quantitavite intervensionis yg dicari untuk mengontrol variabel dan menetralkan konteks. Tujuannya adalah untuk menjelaskan bgaimana sesuatu benar bener bekerja dalam memprediksi dan mengontrol ekperimen

Modified experimental/ manipulative; critical multiplism; falsification of hypotheses; may include qualitative methods

 

Modified experimental; kritisi multiplism: pemalsuan hipotesis, dan bisa termasuk metode kualitative

 

Pemikiran Karl R. Popper

Memiliki nama lengkap Karl Raimund Popper, lahir di Vienna Austria pada tanggal 28 Juli 1902 yang berlatar belakang keluarga Yahudi Protestan. Kemudian beristirahat dengan tenang diusinya yang ke 92 tahun tepatnya di London Inggris pada tanggal 17 September 1994. Merupakan salah satu dari sekian banyak filsuf ilmu dan pakar dalam bidang psikologi belajar. Popper dikenal dengan gagasan falsifikasi- sebagai lawan dari verifikasi terhadap ilmu.[4]

Dalam pemikirannya mengenai prinsip metodologi ilmu yaitu dia menolak metode induksi yang kenyataannya bersifat valid. Menurut Popper, daripada bersusah payah mencari fakta-fakta membenarkan, ilmuwan lebih baik menggunakan waktunya untuk mencari fakta anomaly atau yang menyimpang. Misalkan pernyataan mengenai semua burung gagak berwarna hitam. Secara premis, pernyataan tersebut benar. Namun secara logis pernyataan tersebut salah, karena belum ada jaminan logis bahwa gagak yang diobservasi kemudian tidak ada yang berwana coklat atau putih. Jika hal ini terbukti mana kesimpulan semua gagak hitam itu salah.

Pandangan rasionalistis beranggapan bahwa suatu teori baru akan diterima kalau sudah terbukti bahwa ia dapat meruntuhkan teori lama yang ada sebelumnya. Pengujian teori tersebut menggunakan suatu tes empiris.

 

Pemikiran Thomas Kuhn

Nama lengkapnya adalah Thomas Samuel Khun, beliau lahir pada tanggal 18 Juli 1922 dan menghembuskan nafas terakhir diusianya yang ke 73 tahun tepatnya  pada 17 Juni 1996. Dia seorang filusuf, fisikawan dan sejarawan Amerika Serikat.

Kuhn mempercayai bahwa ilmu pengetahuan memiliki periode pengumpulan data dalam sebuah paradigma. Revolusi kemudian terjadi setelah sebuah paradigma menjadi dewasa. Paradigma mampu mengatasi penyimpangan, namun demikian ketika banyak penyimpangan-penyimpangan yang mengganggu yang mengancam acuan disiplin maka paradigm tidak bisa dipertahankan lagi. Ketika sebuah paradigma tidak dapat dipertahankan lagi, maka seorang ilmuan boleh berpindah ke paradigma baru. Ketika berada pada periode pengumpulan data maka ilmu pengetahuan mengalami apa yang dikatakan perkembangan ilmu biasa. Dalam perkembangan ilmu biasa, sebuah ilmu pengetahuan mengalami perkembangan. Ketika paradigm mengalami pergeseran, maka itulah yang disebut dengan revolusioner. Ilmu dalam tahap biasa bisa dikatakan sebagai pengumpulan yang semakin banyak dari solusi Puzzle. Sedangkan pada tahap revolusi ilmiah terhadap revisi dari kepercayaan ilmiah atau praktek.

 

 

Penutup

Post-positivisme merupakan aliran filsafat yang memperbaiki kelemahan-kelemahan serta kritik terhadap positivisme. Salah satu hal yang ditentang oleh Post-positivisme yakni tidak mungkin menyamaratakan ilmu-ilmu tentang manusia dengan ilmu alam, karena tindakan manusia tidak bisa diprediksi dengan satu penjelasan yang mutlak pasti, sebab manusia selalu berubah

Tokoh dari Post-positivisme adalah Karl R. Ropper dan Thomas Kuhn. Mereka berdua adalah filsuf yang sangat ahlai dalam sebuah pemikiran. Kedua tokoh tersebut memiliki pemikiran tersendiri mengenai Post-positivisme.

 

Daftar Pustaka

  1. Buku

Dani Vardiansyah, 2008, Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar (Jakarta: TP)

Ghony Djunaidi, 2012, Filsafat Ilmu dan Metode Penelitian, (Malang: UIN Maliki Press)

  1. Ravetz Jerome, 2009, Filsafat Ilmu, Sejarah & Ruang Lingkup Bahasan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)
  2. Suriasumantri Jujun, 2009, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan)

Taat Putra Suhartono, 2014, Filsafat Ilmu Ontologi, Epistimologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)

Tafsir Ahmad, 2013, Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra (Bandung: Rosda)

 

  1. Internet

https://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Popper

http://catatan-anakfikom.blogspot.co.id/2012/03/perspektif-positivisme-post-positivisme.html

http://www.wordsinspace.net/course_material/mrm/mrmreadings/GubaLincolnChart.pdf

[1] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu (Jakarta: Pustaka Pelajar, 2014), 112

[2] Vardiansyah, Dani. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, (Jakarta: TP, 2008),27.

[3] http://catatan-anakfikom.blogspot.co.id/2012/03/perspektif-positivisme-post-positivisme.html

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Popper

Tags: #aliran filsafat #filsafat #filsafat ilmu #positivisme #post-positivisme