Artikel Interaksi Islam dalam Budaya Lokal: Perspektif Antropologi

674 views

Artikel Interaksi Islam dalam Budaya Lokal: Perspektif Antropologi

Artikel Interaksi Islam dalam Budaya Lokal: Perspektif Antropologi. Ini sangat membantu bagi anda yang sedang menyelesaikan mata kuliah Pengantar Studi Islam, dan dapat menjadi sebuah referensi. Simak saja artikel tersebut yang menjelaskan tentang interaksi islam di indonesia :

Abstrak: Keberhasilan Islam menyebar sangat luas di Indonesia berkat sebuah interaksi yang melonggarkan budaya-budaya lokal setempat tetap berkembang. Jadi sebuah interaksi sangatlah penting menentukan sebuah keberhasilan. Islam di Indonesia sangatlah unik karena tidak ditemukan arabisasi disana, dan merupakan murni dari sebuah produk lokal. Semua budaya yang tidak melemahkan terhadap akidah, dapat diterima dengan baik oleh Islam, khususnya di Indonesia yang memiliki jutaan budaya lokal. Hal ini senada dengan pendapat para antropolog dimana agama merupakan ajaran pada kebaikan serta senantiasa beradaptasi sesuai dengan zamannya. Sebagaimana di Indonesia, banyak karakteristik Islam di sana dan kita sebagai generasi muda wajib untuk melestarikannya.

Kata Kunci: Interaksi, Islam, Budaya, Antropologi

 

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari manusia pasti sering berinteraksi dengan manusia lain bahkan bisa jadi berinteraksi juga dengan binatang. Begitu juga dengan Agama Islam yang dianut oleh kaum muslimin, Islam dapat tersebar secara luas kebelahan penjuru dunia karena didasari oleh interaksi yang baik dan tepat sasaran. Oleh karena itu sangatlah penting arti dari interaksi itu sendiri. Khususnya di Indonesia sendiri, yang menjadi penganut agama Islam terbanyak di dunia. Bila ditinjau dari sudut pandang agama, Indonesia adalah bangsa yang paling besar penganut agama islam. Namun secara religio-politis dan ideologis, Indonesia bukanlah Negara Islam. Indonesia merupakan Negara yang didasarkan pada ideologi percaya kepada Tuhan yang Maha Esa sebagaimana termuat dalam Pancasila, sila pertama.

Proses masuknya islam sendiri tak luput dari sebuah interaksi yang dilakukan oleh para pendakwah-pendakwah muslimin. Rakyat Indonesia lebih mengenal Wali Songo[1] sebagai pendakwah dan penyebar agama Islam khususnya di tanah jawa.

Islam mudah diterima oleh berbagai macam lingkungan di Nusantara, karena tidak menghilangkan atau menghapuskan budaya[2] peninggalan nenek moyang. Namun dengan adanya keberagaman budaya-budaya tersebut. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin diterima di masyarakat karena ajaran yang dibawa mudah dimengerti yakni tentang aqidah, syari’ah dan akhlak.[3] Islam melebur dapat memperbaiki hal-hal yang dirasa dapat melemahkan akidah orang yang beriman, contohnya tidak mengenal adanya kasta, melainkan semua manusia sama disisi Allah SWT dan yang membedakan adalah amal dan perbuatannya.

Dalam penyebarannya memiliki cara yang unik dan interaksi dan baik, sehingga membedakan dengan agama-agama yang lainnya. Bahkan diterima oleh para raja-raja yang berkuasa pada masa itu yang notabenenya menganut kepercayaan nenek moyang. Diantara cara-cara penyebarannya ialah dengan perdagangan, pendidikan, bahkan perkawinan dan bukan melalui cara-cara penjajahan.

Pengertian Interaksi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, interaksi diartikan sebagai saling melakukan aksi, berhubungan, mempengaruhi, antarhubungan.[4] Dalam Wikipedia Ensiklopedia Bebas, Interaksi didefinisikan suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat. Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan. Dalam berbagai bidang ilmu, interaksi memiliki makna yang berbeda.[5]

Menurut pendapat lain, Shaw mendefinisikan Interaksi ialah suatu pertukaran antarpribadi yang masing-masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka dan masing-masing perilaku memengaruhi satu sama lain.

Thibaut dan Kelley mengemukakan pengertian interaksi, Interaksi adalah suatu peristiwa saling memengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, yang kemudian mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain atau berkomunikasi satu sama lain. Jadi, tindakan setiap orang bertujuan untuk memengaruhi individu lain terjadi dalam setiap kasus interaksi

Jadi interaksi disini lebih cenderung pada cara berhubungan, khususnya dalam agama Islam terdapat banyak cara berinteraksi dengan berbagai lingkungan. Dan kesusksesan agama Islam berkembang dengan pesat di bumi Nusantara ini berkat dari sebuah interaksi.

 

Islam dan Budaya Lokal (Indonesia)

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.[6]

Sedangkan dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, Budaya diartikan sebagai pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu mengenal kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju), cak sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah.[7]

Jadi budaya disini sangat erat kaitannya dengan sebuah kebiasaan, tradisi maupun adat istiadat lokal yang sudah ada dan berkembang serta turun-temurun dilestarikan sebagai eksistensi dari sebuah daerah, maupun suatu golongan. Seperti halnya di Indonesia yang memiliki ribuan aneka ragam budaya yang sampai saat ini masih tetap dilestarikan, khususnya budaya islam di Indonesia.

Islam di Indonesia memang tampak berbeda dengan Islam di berbagai belahan dunia lain, terutama dengan tata cara yang dilakukan di jazirah Arab. Persentuhan antara tiga hubungan kepercayaan pra Islam (animisme, Hindu dan Budha) tetap hidup mewarnai Islam dalam pengajaran dan aktivitas ritual pemeluknya. Karena itu menurut Martin Van Bruinessen,[8] Islam khususnya di Jawa, sebenarnya tidak lebih dari lapisan tipis yang secara esensial berbeda dengan transendentalisme orientasi hukum Islam di wilayah Timur Tengah. Hal ini disebabkan kerena praktek keagamaan orang-orang Indonesia banyak dipengaruhi oleh agama India (Hindu dan Budha) yang telah lama hidup di kepulauan Nusantara, bahkan lebih dari itu dipengaruhi agama-agama penduduk asli yang memuja nenek moyang dan dewa-dewa serta roh-roh halus.

Islam yang datang ke Nusantara dibawa oleh para Sufi sangat mudah diterima oleh penduduk saat itu. Salah satu penyebab dari mudahnya diterima yakni pada awal-awal islam masuk ke nusantara dangan cara berkompromi dengan budaya asli lokal. Sekilas keberagamaan muslim dengan non-muslim di Indonesia memiliki kesamaan, namun pada Islam ini menjalankan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW tanpa menghapus budaya lokal yang telah lama lahir di Indonesia.

Ekspresi keberagamaan muslim yang mirip dengan ajaran non-muslim yang masih lestari hingga saat ini diantaranya adalah: Pertama, penghormatan kepada guru, baik yang masih hidup maupun yang telah berpulang ke Rahmatullah. Dari suatu penghormatan inilah melahirkan sebuah tradisi ziarah kubur, yang mana pada ajaran Hindu dan Budha dikenal dengan memuja roh nenek moyang. Namun dalam islam sendiri ritual-ritual itu sendiri dirubah dengan cara mendoakan para ulama, wali, ataupun sesepuh yang telah wafat dengan cara tahlil dan tawassul.

            Kedua, pembacaan Shalawat kepada Nabi merupakan tawassul yang paling murni di Indonesia. Karena mengalami pemodifikasian sedemikian rupa maka lahirlah macam-macam shalawat seperti pembacaan shalawat pada Maulid Nabi, diba’, barzanji, shalawat munjiyat, manaqib, shalawat badar dan lan sebagainya. Jika dalam tradisi sebelumnya masyarakat lebih mengenal dengan Puja Tri Sandya maupun Paritta Namaskara, maka dalam keberagamaan mengenalkan Shalawat.

Ketiga, tradisi pembacaan tahlil dan Al-Qur’an bagi orang yang telah wafat atau berpulang ke rahmatullah. Tradis ini memiliki banyak fungsi, selain untuk mendo’akan orang muslim yang telah meninggal, dapat juga dijadikan sebagai suatu pelipur lara bagi Shahibul Musibah atau keluarga yang ditinggalkan. Dengan begitu terjalinlah sebuah komunikasi, interaksi, dan ajang silaturrahmi. Perlu diketahui bahwa hal tersebut sebagai pengganti tradisi buruk pra islam yang mengisi acara kematian dengan judi dan pesta minuman keras. Kemudian tradisi meratapi mayit diganti oleh para wali dengan pembacaan talqin.[9]

            Keempat, upaya wali dalam mendakwah agar dapat membaur dengan tradisi budaya lokal yakni tidak menginjak-injak dan menindas keyakinan lama yang dianut oleh masyarakat Indonesia yang saat itu mulai memudar pengaruhnya,Hindu dan Budha. Namun mereka melakukan perubahan sosial secara halus dan bijaksana. Mereka tidak langsung menentang kebiasaan-kebiasaan lama masyarakat namun justru menjadikannya sebagai sarana dalam dakwah mereka. Salah satu sarana yang mereka gunakan sebagai media dakwah mereka adalah wayang kulit. Karena pada saat itu wayang kulit sangat popular, dan dengan demikian wali songo khususnya Sunan Kalijaga menggunakan media wayang kulit untuk mementaskan pertunjukan yang bernafaskan Islam. Kemudian media seperti bedug dan kentongan pada saat itu digunakan sebagai tanda bahwa adanya mala bahaya, kemudian dipakai juga oleh Wali Songo sebagai tanda untuk memulai sembahyang karena teriakan adzan pada saat itu dirasa kurang maksimal karena jarak masjid dengan rumah-rumah penduduk sangatlah jauh. Dan hingga saat ini pula kedua sarana tersebut masih tetap dipakai dan dilestarikan.

Ketika Islam telah masuk dan menyebar ke Indonesia, maka tidak dapat terlepas dari budaya lokal yang sudah ada dalam masyarakat. Antara keduanya meniscayakan adanya dialog yang kreatif dan dinamis, hingga akhirnya Islam dapat diterima sebagai agama baru tanpa harus menggusur budaya lokal yang sudah ada. Dalam hal ini budaya lokal yang berwujud dalam tradisi dan adat masyarakat setempat, tetap dapat dilakukan tanpa melukai ajaran Islam, sebaliknya Islam tetap dapat diajarkan tanpa mengganggu harmoni tradisi masyarakat. Kemudian antara islam dan budaya lokal terjadilah proses transformasi kultural sehingga menghasilkan suatu keterpaduan antara dua entitas[10] yaitu Islam dan budaya lokal.

 

Dialektika antara Agama dan Budaya: Perspektif para Antropolog

            Ilmu kemanusiaan yang didedikasikan untuk mengkaji persoalan sangatlah banyak, diantaranya psikologi, sosiologi dan antropologi seperti titik tekan pada artikel ini. Antropologimendalami manusia dan membuat gambaran tentang ke-akuan manusia dalam konsepsi filosofis.[11]

Edward B. Taylor dalam karyanya yang berjudul Primitive Culture mengatakan bahwa kognisi manusia dipenuhi dengan mentalitas agama, terbukti bahwa tema-tema kajian yang menjadibahan perbincangan diantara mereka ketika itu adalah sifat dan asal-usul kepercayaan keagamaan, hubungan logis dan historis antara mitos, kosmos dan ritus. Hal yang sama diungkapkan oleh Frazer, baginya agama adalah system kepercayaan, yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan tingkat kognisi seseorang.[12]

Dalam literatur lain, Tylor lebih menegaskan bahwa agama manapun pada hakikatnya selalu mengajarkan kepercayaan terhadap spirit. Agama dengan seperangkat tata aturan ajarannya adalah hasil knstruk penciptanya, sementara mitos adalah hasil konstruksi kognisi manusia.[13]

Dari sekian banyak agama ada sebuah kesamaan karakteristik yakni mengajarkan sebuah kepercayaan kepada Tuhannya. Dan masih belum ditemukan diatas muka bumi ini sebuah agama yang mengajarkan keburukan bagi para pemeluknya.

Kemudian menurut perspektif Clifford Geertz yakni, agama bukan hanya masalah spirit, melainkan telah terjadi hubungan intents antara agama sebagai sumber nilai dan agama sebagai sumber kognitif. Pertama: agama merupakan pola tindakan bagi manusia (pattern of behavior). Dalam hal ini agama menjadi pedoman yang mengarahkan tindakan manusia. Kedua: agama merupakan pola dari tindakan manusia (pattern for behavior). Dalam hal ini agama dianggap sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalaman manusia, yang tidak jarang telah melembaga menjadi kekuatan mitis. Karena itu agama dalam perspektif kedua ini seringkali dipahami sebagai bagian dar system kebudayaan.[14]

Dari kalangan Islamolog memiliki pemahaman bahwa agama yang tampil ditengah kehidupan masyarakat (keberagamaan) akan senantiasa beradaptasi dengan zamannya. Ia tidak lagi berupa representasi wahyu murni yang terpisah dari subjektifitas manusia. Melainkan ia telah menyatu dan bersinergi dengan kehidupan manusia yang disebut mitos.[15]

Oleh karena itu, agama oleh para ilmuan muslim yang berbasis ilmu-ilmu antropologi tidak jarang dianggap sebagai bagian dari system budaya (system kognisi). Selain agama juga dianggap sebagai sumber nilai (system nilai) yang tetap harus dipertahankan aspek ontentisitasnya. Disatu sisi agama dalam perspektif ini, dipahami sebagai hasil dari tindakan manusia, baik berupa budaya maupun peradaban. Pada sisi lain agama tampil sebagai sumber nilai yang mengarahkan bagaimana manusia berperilaku.[16] Dalam sebuah agama pastilah memiliki petunjuk, jika dalam Islam sendiri yakni Al-Qur’an dan As-sunnah. Namun Al-Qur’an tidaklah proaktif memberi petunjuk layaknya manusia. Manusialah yang sejatinya bertanggungjawab membuat Al-Qur’an aktif berbicara, sehingga ia berfungsi sebagaimana layaknya petunjuk.[17]

 

Karakteristik Islam di Indonesia

Proses keberhasilan menyebarnya agama islam di Indonesia berkat kelonggaran-kelonggaran yang diberikan islam kepada budaya atau adat istiadat setempat, terutama di daerah yang memiliki basis Hindu-Budha yang kuat. Sedangkan terhadap budaya kehidupan social yang dzalim, islam dengan tegas menolaknya serta memberikan batasan-batasan melalui pendekatan budaya yang sesuai dengan etika dan norma kemanusiaan.

Karakteristik Islam di Indonesia dalam dimensi sosial dan budaya merupakan cara berbudaya umat Islam yang mungkin tidak akan ditemui di daerah manapun. Namun budaya dalam hal ini tidaklah melenceng dari ajaran yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Berikut ini beberapa contoh karakteristik Islam di Indonesia dalam Dimensi Sosial dan Budaya, antara lain:

  1. Mudik Lebaran

Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 1 Syawal ini menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam diseluruh dunia, bahkan di Indonesia karena aka nada tradisi mudik atau pulang ke kampong halaman.

Ini merupakan tradisi pulang ke Kampung halaman saat libur menjelang lebaran Idul Fitri. Tentunya adapula tradisi unik didalamnya, mulai dari memberi cuti libur lebaran, pemberian tunjangan hari raya, berkumpul dengan kerabat untuk silaturrahmi, bahkan memakan ketupat bersama.

  1. Isra’ Mi’raj

Ini merupakan momen penting perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam. Bagi umat Islam di Indonesia, hal ini merupakan hal yang sangat penting karena dari sinilah shalat lima waktu itu diwajibkan. Kemudian pemerintah menetapkan peringatan ini sebagai Hari Besar Nasional.

  1. Maulid Nabi

Peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal ini menjadi hal yang sangat penting bagi kaum muslimin di Indonesia. Karena suatu kegembiraan bagi kaum muslimin atas lahirnya utusan Allah yang telah mentransformasikan kehidupan didunia ini menjadi berakhlakhul karimah, agamis, dan pastinya sumber terbukanya ilmu pengetahuan yang luas. Beragam cara orang memperingati hari kelahiran Nabi, diantaranya pembacaan shalawat Nabi, Berzanji, pengajian, sekaten.[18] Bahkan dalam peringatan ini Pemerintah menetapkan sebagai Hari Besar Nasional.

  1. Peci Nasional

Peci sering juga disebut dengan kopiah atau songkok, yang terbuat dari sebuah kain dan lain sebagainya. Menurut beberapa sumber referensi, mula-mula peci ini ada pada abad ke 14 masehi setelah Laksamana Cheng Ho melakukan invansi. Setelah berkembangnya waktu, peci digunakan oleh laki-laki muslim di Indonesia dan kemudian rakyat pribumi menganggap bahwa orang yang mengenakan peci adalah yang berpendidikan tinggi dan dipakai dalam acara-acara tertentu misalkan hajatan dan shalat.

Kemudian Presiden Soekarni berhasil menjadikan peci sebagai budaya lokal yang dapat diterima oleh kalangan manapun. Bahkan dalam parlemen, peci diwajibkan saat acara-acara tertentu.

 

Upaya Melestarikan Karakteristik Islam di Indonesia

Karakteristik Islam di Indonesia patut untuk dilestarikan, agar nilai-nilai kental budaya yang berbaur dengan agama tidaklah hilang. Berikut ini upaya melestarikan karakteristik Islam di Indonesia, diantaranya:

  1. Membangkitkan semangat dan kecintaan terhadap Ilmu Pengetahuan

Tidak dapat dipungkiri bila ingin sukses dan berkehidupan yang baik, kejarlah dengan Ilmu. Orang-orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT, sebagaimana dalam Al-Qur’an Surah Al-Mujadilah ayat 11:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١

Artinya:

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)[19]

Mencintai dan memiliki semangat menuntut ilmu akan mengubah arah pergerakan dan pelestarian karakteristik Islam Indonesia. Mari bersama kita hilangkan nilai sekularisme dalam menuntut Ilmu.

  1. Membangun Solidaritas Umat

Sebagai agama yang hidup dialam dunia multicultural, tentulah Islam akan mendapat banyakk cobaan. Maka dengan ini umat harus memahami bahwa perbedaan merupakan suatu rahmat, dan berbeda pendapat merupakan suatu hal yang wajar. Untuk tetap melestarikan karakteristik Islam Indonesia, sangat diperlukan solidaritas ummat untuk bersatu.

  1. Regenerasi Umat

Dalam upaya melestarikan karakteristik Islam di Indonesia perlulah melakukan regenerasi umat ataupun pengkaderan. Dengan demikian, kita tidak akan perlu khawatir terhadap zaman yang akan datang bila telah menyiapkan generasi penerus yang taat seperti para sesepuhnya. Oleh karena itu sangat penting dalam melakukan regenerasi umat.

  1. Membentuk Basis Ekonomi Umat

Membangun kehidupan ekonomi yang mandiri selalu menjadi prioritas dalam bangsa ini. Apalagi pembangunan ekonomi merupakan titik berat dalam bidang perekonimian. Sebagai umat islam harus dapat menjalankan perintah agama tanpa beban apapun, khusunya beban ekonomi. Oleh karena itu Visi dari system ekonomi Islam adalah mengatasi masalah kemiskinan yang merembet pada masalah kekufuran dan kekafiran ummat. Insya Allah dengan membangun ekonomi ummat, masyarakat muslim dapat kembali berjaya dengan tetap mempertahankan karakteristik Islam Indonesia.

 

Daftar Pustaka

Buku:

Abdul Kadir, Riyadi, 2014, Antropologi Tasawuf Wacana Manusia Spiritual dan Pengetahuan, Jakarta, Pustaka LP3ES

Aksin Wijaya, 2009, Arah baru Studi Ulum Al-Qur’an Memburu Pesan Tuhan dibalik Fenomena Budaya, Yogyakarta, Pustaka Pelajar

Al-Qur’an dan Terjamahnya (Bandung: CV. Gema Risalah Press, t.p), 1112.

Bruinessen, Martin Van, 1999, Global and Local in Indonesia lslam vol.37, Kyoto, :t.p

Departemen Pendidikan Nasional, 2001, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga,  Balai Pustaka, Jakarta

Hasbullah, t.t, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, Jakarta, PT. Raja Grafindo Nusantara

Nursyam, 2005, Islam Pesisir, Yogyakarta: LKiS

Roibin, Relasi Agama & Budaya Masyarakat Kontemporer, Malang, UIN Malang Press

 

Internet:

https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya

https://id.wikipedia.org/wiki/Interaksi

[1] Wali Songo adalah nama yang tidak asing dikalangan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Islam yang tinggal di Pulau Jawa. Wali Songo adalah nama yang sakral, sejak zaman dahulu hingga sekarang makam-makam Wali Songo banyak diziarahi orang.

[2] Dapat berupa adat istiadat dalam suatu daerah tertentu, dan setiap daerah memiliki budaya yang berbeda-beda

[3] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Nusantara, t.t), 4.

[4] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (Balai Pustaka: Jakarta, 2001), 483

[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Interaksi, diakeses pada 11-17-2016

[6] https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya, diakses pada 11-17-2016

[7] Departemen, Kamus Besar, 169

[8] Bruinessen, Martin Van, “Global and Local in Indonesia lslam”, vol.37  (Kyoto:t.p,1999), 46-63.

[9] Talkin merupakan membisikkan (menyebutkan) kalimat syahadat dekat orang yang hendak meninggal atau (dalam bentuk doa) untuk mayat yang baru dikuburkan; Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1128.

[10] Entitas merupakan satuan yang berwujud, wujud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 304

[11] Abdul Kadir, Riyadi, Antropologi Tasawuf Wacana Manusia Spiritual dan Pengetahuan (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2014), 2.

[12] Roibin, Relasi Agama & Budaya Masyarakat Kontemporer (Malang: UIN Malang Press, 2009), 73-74

[13] Ibid, 74

[14] Nursyam, Islam Pesisir (Yogyakarta: LKiS, 2005), 1

[15] Robini, Relasi Agama.., 76

[16] Ibid, 77

[17] Aksin Wijaya, Arah baru Studi Ulum Al-Qur’an Memburu Pesan Tuhan dibalik Fenomena Budaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 1

[18] Berasal dari kata Syahadatain adalah acara peringatan ulang tahun nabi Muhammad SAW yang diadakan pada setiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul Awal tahun Hijriah) di Alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta.

[19] Al-Qur’an dan Terjamahnya (Bandung: CV. Gema Risalah Press, t.p), 1112.

Tags: #antropologi #budaya #interaksi #islam #lokal #pergumulan