Artikel tentang Ilmu Munasabah Al-Qur’an, Baca Sekarang

1002 views

Artikel tentang Ilmu Munasabah Al-Qur'an, Baca Sekarang

Artikel tentang Ilmu Munasabah Al-Qur'an, Baca Sekarang. Artikel ini mungkin akan bermanfaat bagi anda yang sedang menyelesaikan tugas Studi Al-Qur'an atau ada juga yang menyebut sebagai Ulumu' Qur'an. Berikut ini rincian dari artikel tersebut:

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Di dalamnya berisi petunjuk, kabar gembira, dan peringatan. Telah kita ketahui bahwa Al Qur’an tidak langsung turun kepada Rasulullah saw berupa satu mushaf sekaligus dan bisa dibaca. Akan tetapi turun berangsur-angsur sesuai kejadian dan termasuk pula melalui suara yang diperdengarkan. Dalam proses pembukuannya pun memerlukan waktu yang tidak singkat.

Sistematika Al Qur’an sebagaimana terdapat dalam mushaf Utsmani tidak berdasarkan atas fakta kronologis turunnya. Oleh karena itu lahirlah pengetahuan tentang teori korelasi atau Munasabah.

Secara bahasa, kata “al Munasabah” berarti al musyakalah dan al muqarabah yang artinya keserasian dan kedekatan. Adapun secara istilah, sebagaimana pendapat Quraish Shihab bahwa munasabah adalah adanya keserupaan dan kedekatan di antara berbagai ayat, surat, dan kalimat yang mengakibatkan adanya hubungan. Hubungan tersebut dapat berbentuk keterkaitan makna antar ayat dan macam-macam hubungan dalam pikiran.

Menurut metode munasabah bahwa apabila suatu ayat Al Qur’an atau suatu surat sulit ditangkap maknanya secara utuh, maka dapat dicari penjelasannya pada ayat atau surat lain yang mempunyai kesamaan atau kemiripan.

Adapun macam-macam munasabah adalah : 1) munasabah antara suatu surat dengan surat lainnya, 2) munasabah antara nama surat dengan kandungannya, 3) munasabah antara bagian satu surat, 4) munasabah antara ayat yang berdampingan, 5) munasabah antara suatu kelompok ayat di sampingnya, 6) munasabah antara fashilah dengan isi ayat dan 6) munasabah antara penutup satu surat dengan awal surat sebelumnya.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa pengertian dari Munasabah?
  3. Bagaimana cara mengetahui Munasabah?
  4. Apa saja macam-macam Munasabah?
  5. Apa fungsi ilmu Munasabah?
  6. Tujuan
  7. Mengetahui pengertian dari Munasabah
  8. Dapat mengetahui Munasabah
  9. Mengetahui macam-macam Munasabah
  10. Mengetahui fungsi ilmu Munasabah

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Ilmu Munasabah Al-Qur’an

Secara etimologi, Munasabah berasal dari bahasa arab yakni المشاكلاة dan المقاربة artinya keserasian dan kedekatan.[1] Tidak hanya al-musyakkalah dan al-muqarabah yang menjadi dasar epistimologi dari Munasabah, namun ada pula kata “an-nasib” berarti kerabat yang mempunyai hubungan seperti dua orang bersaudara dan putra paman.[2]

Secara terminologi atau istilah, banyak ulamak dan tokoh islam yang mendefinisikan dari Munasabah ini, diantaranya sebagai berikut :

  1. Quraish Shihab, mendefinisikan Munasabah yakni adanya keserupaan dan kedekatan diantara berbagai ayat, surah, dan kalimat yang mengakibatkan adanya hubungan.[3]
  2. Menurut Az-Zarkasyi:[4]

اَلْمُنَاسَبَةُ أَمرٌ مَعْقُوْلٌ إِذَا عُرِضَ عَلَى اْلعُقُوْلِ تَلَقَّتْهُ بِالْقَبُلِ

Artinya :

“Munasabah adalah suatu hal yang dapat dipahami. Tatkala dihadapkan kepada akal, pasti akal itu menerimanya.”

  1. Menurut Manna’ Al-Qaththan:[5]

وَجْهُ الْإِرْتِبَاطِ بَيْنَ اْلجُمْلَةِ وَاْلجُمْلَةِ فِى اْلأَيَةِ اْلوَاحِدَةِ أَوْبَيْنَ اْلأَيَةِ وَ اْلأَيَةِ فِى اْلأَيَةِ اْلمُتَعَدِّدَةِ أَوْبَيْنَ السُّوْرَةِ والسُوْرَةِ

Artinya :

“Munasabah adalah sisi keritikan antara beberapa ungkapan didalam suatu ayat, atau antar ayat pada beberapa ayat, atau antar surah (didalam Al-Qur’an).”

  1. Menurut Ibn Al-‘Arabi:[6]

إِرْتِبَطُ أَيِّ اْلقُرْانِ بَعْضِهَا  بِبَعْضٍ حَتَى تَكُوْنَ كَالْكَلِمَةِ اْلوَا حِدَةِ مُتَّسِقَةِ اْلمَعَانِيْ مُنْتَظِمَةِ اْلمَبَانِيْ عِلْمٌ عَظِيْمٌ

Artinya :

“Munasabah adalah keterikatan ayat-ayat Al-Qur’an sehingga seolah-olah merupakan satu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupakan ilmu yang sangat Agung.”

  1. Menurut Al-Biqa’I[7]

“Munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan dibalik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Qur’an, baik ayat dengan ayat, atau surat dengan surat.”

 

Dari beberapa pengertian secara etimologi dan terminologi yang dikemukakan beberapa tokoh islam, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa Munasabah berarti menjelaskan hubungan atarayat atau antarsurat yang terdapat pada Al-Qur’an, hubungan tersebut bisa berupa umum ataupun khusus, bisa juga berupa hubungan sebab akibat, dan lain sebagainya.

 

  1. Cara Mengetahui Munasabah

Para ulama’ menjelaskan bahwa pengetahuan tentang munasabah bersifat ijtihad. Artinya, pengetahuan tentangnya ditetapkan berdasarkan ijtihad karena tidak ditemukan riwayat, baik dari Nabi maupun sahabatnya.[8] Jadi tidak wajib atau tidak ada keharusan untuk mencari suatu Munasabah pada setiap ayat didalam Al-Qur’an. Terkadang seorang mufassir menemukan sebuah korelasi antar ayat dalam surah dengan ayat lain dalam surah lain juga. Bilapun dalam hal ini tidak menemukan keterkaitan, maka tidak perlu dipaksakan untuk menemukannya.

Diperlukan ketelitian dan pemikiran yang sangat mendalam bagi seorang mufassir dalam melakukan penelitian korelasi atau kesesuain susunan ayat dan surat dalam Al-Qur’an. Sehingga nanti hasilnya tidak terkesan mengada-ngada dan dapat dipertanggung jawabkan. Menurut As-Suyuthi dalam buku Ulum Al-Quran karangan Rosihon Anwar menjelaskan bahwa ada beberapa langkah yang harus diperhatikan untuk menemukan munasabah, antara lain:

  1. Harus diperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi objek pencarian.
  2. Memerhatikan urain ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat.
  3. Menentukan tingkat urain-urain itu, apakah ada hubungannya atau tidak.
  4. Dalam mengambil kesimpulan, hendaknya memerhatikan ungkapan-ungkapan bahasanya dengan benar dan tidak berlebihan.

 

  1. Macam-macam Munasabah

Didalam Al-Qur’an terdapat delapan macam munasabah yang dapat kita kaji pada pembahasan ini, diantaranya:

 

  1. Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya

Munasabah antar satu surat dengan surat sebelumnya dapat juga berfungsi sebagai penerangan ataupun menyempurnakan berbagai ungkapan yang ada pada surat sebelumnya. Contohnya pada Surat Al-Fatihah ayat 1, ini berkorelasi dengan Surat Al-Baqarah ayat 152 dan 186:

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ ١٥٢

 

Artinya :

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (Q.S. Al Baqarah: 152)[9]

 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦

Artinya :

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah: 186)[10]

Berkaitan dengan Munasabah macam ini, ada urain yang baik yang ditemukan Nasr Abu Zaid. Ia menjelaskan bahwa hubungan khusus surat Al-Fatihah dengan surat Al-Baqarah merupakan hubungan stilistika-kebahasaan. Sementara hubungan umum lebih berkaitan dengan isi kandungan.[11]

 

  1. Munasabah antar nama surat dan tujuan turunnya

Dalam Al-Qur’an, dari setiap surat tersebut ada tema yang sangat menonjol, biasanya dapat ditemui pada nama masing-masing surat. Contohnya surat Al-Baqarah, surat Yusuf, surat Al-Jin dan lain sebagainya. Berikut ini firman Allah surat Al-Baqarah 67-71:

وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تَذۡبَحُواْ بَقَرَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَتَّخِذُنَا هُزُوٗاۖ قَالَ أَعُوذُ بِٱللَّهِ أَنۡ أَكُونَ مِنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ ٦٧ قَالُواْ ٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَۚ قَالَ إِنَّهُۥ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٞ لَّا فَارِضٞ وَلَا بِكۡرٌ عَوَانُۢ بَيۡنَ ذَٰلِكَۖ فَٱفۡعَلُواْ مَا تُؤۡمَرُونَ ٦٨ قَالُواْ ٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوۡنُهَاۚ قَالَ إِنَّهُۥ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٞ صَفۡرَآءُ فَاقِعٞ لَّوۡنُهَا تَسُرُّ ٱلنَّٰظِرِينَ ٦٩ قَالُواْ ٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ ٱلۡبَقَرَ تَشَٰبَهَ عَلَيۡنَا وَإِنَّآ إِن شَآءَ ٱللَّهُ لَمُهۡتَدُونَ ٧٠ قَالَ إِنَّهُۥ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٞ لَّا ذَلُولٞ تُثِيرُ ٱلۡأَرۡضَ وَلَا تَسۡقِي ٱلۡحَرۡثَ مُسَلَّمَةٞ لَّا شِيَةَ فِيهَاۚ قَالُواْ ٱلۡـَٰٔنَ جِئۡتَ بِٱلۡحَقِّۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُواْ يَفۡعَلُونَ ٧١

Artinya :

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil" (67). Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. (68). Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya. (69) Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu) (70)  Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya". Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu” (71)[12]

 

Inti pembicaraan pada surat Al-Baqarah diatas adalah seekor lembu, dengan kekuasaan Allah dapat membangkitkan orang yang telah mati. Tujuan dari surat ini yakni menyinggung kekuasaan Allah serta keimanan pada hari kemudian dimana manusia akan dibangkitkan.

 

  1. Munasabah antar bagian suatu ayat

Munasabah antar bagian surat sering dijumpai dalam bentuk pola munasabah Al-tadhadat (perlawanan) sebagaimana dalam surat Al-Hadid ayat 4:

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعۡرُجُ فِيهَاۖ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ٤

Artinya :

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Al-Hadid: 4)[13]

Antara kata “yaliju” (masuk dengan kata “yakhruju” (keluar), serta kata “yanzilu” (turun) dengan kata “ya’ruju” (naik) ada korelasi perlawanan.

 

  1. Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan

Munasabah seperti ini sering terlihat dengan jelas, ada pulan yang kurang jelas. Pada munasabah antar ayat yang terlihat jelas pada umumnya menggunakan pola ta’kid (penguat), tafsir (penjelas), I’tiradh (Bantahan), dan tasydid (penegasan). Sebagai contoh munasabah yang menggunakan pola ta’kid  yakni salah satu ayat atau bagian ayat memperkuat makna atau kandungan ayat atau bagian ayat yang ada disampingnya. Contoh sederhananya pada firman Allah Q.S. Al-Fatihah ayat 1-2:

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢

Artinya :

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.  Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”[14]

Pada ayat diatas terdapat ungkapan “rabbil al-‘alamin” yang memperkuat ungkapan kata “Ar-rahman” dan “Ar-Rahum” pada ayat pertama.

 

  1. Munasabah antar suatu kelompok ayat dan kelompok ayat disampingnya

Pada munasabah yang ke-lima ini, dapat ditemui suatu contoh dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 1 sampai ayat 20. Penjelannya memulai tentang kebenaran Al-Qur’an bagi orang-orang yang bertaqwa. Kemudian pada beberapa kelompok ayat sesudahnya, dijelaskanlah kelompok manusia yang berbeda-beda yaitu orang mukmin, orang kafir dan munafik.

 

  1. Munasabah antar fashilah (pemisah) dan isi ayat

Pada munasabah ini terkandung tujuan tertentu, misalkan menguatkan (tamkin) makna yang terkandung dalam suatu ayat Al-Qur’an. Berikut contoh dalam surat Al-Ahzab ayat 25:

وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِغَيۡظِهِمۡ لَمۡ يَنَالُواْ خَيۡرٗاۚ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلۡقِتَالَۚ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزٗا ٢٥

 

 

 

 

Artinya:

Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa (Q.S. Al-Ahzab: 25)[15]

Dalam ayat tersebut, Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan bukan karena lemah, namun karena Allah Maha kuat dan Maha Perkasa.

 

  1. Munasabah antar awal surat denga akhir surat yang sama

Contoh dari munasabah ini pada surat Al-Qashas, yang pada awal surat menerangkan perjuangan Nabi musa melawan kekejaman Fir’aun. Namun atas pertolongan Allah, Nabi Musa berhasil keluar dari Mesir dengan penuh tekanan. Pada akhir surat, Allah menyampaikan kabar gembira pada Nabi Muhammad yang sedang menghadapi tekanan dari kaumnya, kemudian janji Allah atas kemenangannya. Disini ada kesamaan kondisi yang sedang dihadapi oleh kedua Nabi tersebut.

 

  1. Munasabah antar-penutup suatu surat dengan awal surat berikutnya

Pada permulaan surat akan menemukan munasabah dengan akhir surat sebelumnya. Sebagaimana contoh pada permulaan surat Al-Hadid ayat 1 dengan akhir surat Al-Waqi’ah ayat 96:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١

Artinya:

“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S. Al-Hadid: 1)[16]

Pada pembukaan ayat tersebut, Allah menerangkan bahwa semua yang adi dilangit dan dibumi bertasbih kepada-Nya. Kemudian diakhir surat Al-Waqi’ah, Allah memerintahkan bertasbih:

فَسَبِّحۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلۡعَظِيمِ ٩٦

Artinya:

“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.” (Q.S. Al-Waqi’ah: 96)[17]

 

  1. Fungsi Mempelajari Ilmu Munasabah

Mempelajari ilmu munasabah banyak manfa’atnya yang dapat kita ambil, berikut ini beberapa fungsi dalam mempelajari ilmu munasabah:

  1. Dapat mengembangkan sementara anggapan orang yang menganggap bahwa tema-tema Al-Qur’an kehilangan relevansi antara satu bagian dengan bagian yang lain.
  2. Mengetahui persambungan atau hubungan antara bagian Al-Qur’an, baik antara kalimat-kalimat atau ayat-ayat maupun surat0suratnya yang satu dengan yang lain, sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab Al-Qur’an dan memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya.
  3. Dapat diketahui mutu dan tingkat kebalaghahan bahasa Al-Qur’an dan konteks kalimat-kalimatnya yang satu dengan yang lainnya, serta persesuain ayat/surat yang satu dengan yang lain.
  4. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau ayat dengan kalimat atau ayat yang lain.[18]
  5. Ada ayat baru dapat dipahami apabila melihat ayat berikutnya.[19]

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari beberapa penjelasan yang sudah disampaikan, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut:

  1. Ilmu Munasabah Al-Qur’an adalah menjelaskan hubungan atarayat atau antarsurat yang terdapat pada Al-Qur’an, hubungan tersebut bisa berupa umum ataupun khusus, bisa juga berupa hubungan sebab akibat, dan lain sebagainya
  2. Cara mengetahui Munasabah pada tiap-tiap ayat pada Al-Qur’an bersifat Ijtihad, karena pada dasarnya Nabi tidak meriwayatkan ini.
  3. Macam-macam Munasabah ada 8 antara lain, (1) Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya, (2) Munasabah antar nama surat dan tujuan turunnya, (3) Munasabah antar bagian suatu ayat, (4) Munasab antar ayat yang letaknya berdampingan, (5) Munasabah antar suatu kelompok ayat dan kelompok ayat sampingnya (6) Munasabah antar fashilah (pemisah) dan isi ayat, (7) Munasabah antar awal surat dengan akhir surat yang sama, (8) Munasabah antar penutup suatu surat dengan awal surat berikutnya.
  4. Manfa’at dari mempelajari ilmu Munasabah salah satunya ialah, dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau ayat dengan kalimat atau ayat yang lain.
  5. Saran

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjamahannya. Cimahi: Gema Risalah Press

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, 2002

Abd Moqsith Ghazali, Luthfi Assyaukanie, Ulil Abshar-Abdalla, Metodologi Studi Al-Qur’an. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009

Anwar, Abu. Ulumul Qur’an Sebuah Pengantar. Amzah, 2009

Anwar, Rosihon. Ulum Al-Quran. Bandung: Pustaka Setia, 2013

Zenrif, M.F. Sintesis Paradigma Studi Al-Quran. Malang: UIN Malang Press, 2008

[1] M. Quraish Shihab, Wawasan Alquran (Bandung: Mizan, 1996), 319.

[2] Rosihon Anwar, Ulum Al-Quran (Bandung: Pustaka Setia, 2013), 82.

[3] Shihab, Wawasan, 319

[4] Badr Ad-Din Muhammad bin ‘Abdillah Az-Zarkasyi, Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an (t.tp:t.p,tt), 35.

[5] Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum Al-Quran (t.tp:t.p.1973), 97.

[6] Manna’, Mabahits, 97

[7] Burhanuddin Al-Biqa’I, Nazhm Ad-Durar fi Tanasub Al-Ayat wa As-Suwar (India:t.p, 1969), 6.

[8] Rosihon, Ulum, 83.

[9] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Cimahi: Gema Risalah Perss,t.t), 45.

[10] Ibid, 54.

[11] Rosihon, Ulum, 86.

[12] Departemen, Al-Qur’an, 20.

[13] Departemen, Al-Qur’an, 1101.

[14] Departemen, Al-Qur’an, 1.

[15] Departemen, Al-Qur’an, 833.

[16] Ibid, 1101

[17] Departemen, Al-Qur’an, 1100.

[18] Rosihon, Ulum, 98

[19] Abu, Ulum, 76

Tags: #ilmu munasabah #kuliah #munasabah #studi alquran #ulumul qur'an