Terharu Kisah Bripda Eka, Polwan sekaligus Tukang Tambal Ban

2066 views

Terharu Kisah Bripda Eka, Polwan sekaligus Tukang Tambal Ban. Awalnya Bripda Eka tertarik menjadi Polisi karena sosialisasi di SMK bahwa menjadi Polisi tidak dipungut biaya. Sejak itulah dia bingung antara mewujudkan cita-cita atau menjadi Polwan. Bripda Eka Yuli Andini berumur 19 tahun ini memiliki kisah hidup yang sulit, ayah seorang tukang tambal ban dan ibu seorang rumah tangga biasa.

Polwan sekaligus Tukang Tambal Ban

Terharu Kisah Bripda Eka, Polwan sekaligus Tukang Tambal Ban

Pada saat ini Bripda Eka Yuli Andini 19 menjadi anggota Sabhara Polresta Salatiga. Awalnya dia pribadi tidak percaya akan diterima menjadi polisi karena kabar angin diluar mengharuskan memiliki uang ratusan juta untuk menjadi polisi, terlebih lagi dia hanya memiliki tinggi badan 156 sentimeter. Namun, karena dorongan kuat dari teman-teman satu sekolah dan guru-gurunya, akhirnya Eka memberanikan diri mengikuti proses seleksi Secaba Polri di Semarang.

Bripda Eka juga termasuk siswa yang berprestasi selama menjalani pendidikan Sekolah Calon Bintara (Secaba) di Pusdik Binmas Lemdikpol, Banyubiru, Ambarawa. Dari 7000 peserta saat pendidikan kepolisian se-Indonesia, dia meraih peringkat ke tujuh.

"Motivasi saya hanya satu, ingin membantu ekonomi keluarga dan mengangkat derajat orangtua," kata dia.

Disela-sela kesibukannya sebagai anggota di Kesatuan Sabhara Polresta Salatiga, Bripda Eka tetap tidak melupakan tugasnya membantu pekerjaan orangtua yakni penambal ban.

Keadaan dirumahnya yakni hanya memiliki 2 kamar dan tidak memiliki kamar tamu. Dia mengontrak seharga 2 juta pertahun, dan hanya ada satu gorden didalamnya. Teras berukuran 2 x 3 meter difungsikan sebagai tempat kerja ayahnya untuk menambal ban. Sama harunya dengan kisah bripda taufik lalu (Baca: polisi tinggal dikandang sapi)

Diapun pernah kena tipu mengenai rumah, awalnya bertempat tinggal di di Kebonsari, Kalicacing, Salatiga. Rumah itu ditinggali bersama dengan kakek Eka. Setelah kakeknya meninggal, ada pihak ketiga yang mengklaim rumah tersebut.

"Rumah kami sudah diambil orang karena kena tipu. Kata ibu, dulu rumah itu dibeli oleh Mbah (kakek). Tapi, sayangnya, karena orang zaman dulu, jual belinya antar-dua orang tidak pakai surat-surat. Saat kakek meninggal tahun 2005, kami diusir," kenang Eka.

"Tapi, kami sudah ikhlaskan, insya Allah mau beli rumah kalau uangnya sudah cukup," kata Eka sambil tersenyum.

Kini sebagai anggota polisi, eka berharap agar gajinya kelak cukup untuk membeli rumah baru yang layak pakai untuk tempat tinggal orang tua dan adiknya. Sudah dua bulan menjadi polisi, eka telah menerima gaji satu kali dan sepenuhnya diserahkan pada sang ibunda tercinta. Begitulah posting mengenai Terharu Kisah Bripda Eka, Polwan sekaligus Tukang Tambal Ban

Tags: #bripdaeka #polwan #tambalban

Categories: IndonesiaTags:

Incoming search terms: